Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara, Badan Pengembangan Bahasa dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis bagi Komunitas Literasi di Kabupaten Halmahera Timur pada tanggal 21—22 Februari 2024 di Aula SMA Negeri 1 Halmahera Timur, Jalan Lintas Halmahera, Desa Sailal, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur. Kegiatan ini menyasar pengurus komunitas literasi yang belum memiliki manajemen maupun program kegiatan yang teratur.  

Materi pertama pada hari pertama adalah “Peran, Strategi, dan Kebijakan Bagian Kearsipan dan Perpustakaan Daerah dalam Memberdayakan Komunitas Literasi di Kabupaten Halmahera Timur” yang disampaikan oleh Bustam Latawan, S.Pd. (Kepala Bagian Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Halmahera Timur). Dalam materi ini, narasumber memaparkan peran perpustakaan dalam pembinaan literasi yaitu sebagai sebagai pusat informasi; sebagai tempat pengetahuan; sebagai tempat mencari, menyeleksi, dan mengisi bahan perpustakaan; membangun kesadaran minat baca; sebagai fasilitator; dan sebagai sarana tranformasi ilmu.

Bustam menyatakan bahwa merangkul komunitas literasi memang merupakan salah satu tupoksi instansinya. Akan tetapi, saat ini status kelembagaan masih berbentuk bagian sehingga masih sangat terbatas untuk melaksanakan penyelenggaraan wewenang dan ruang lingkup tugas. Hal ini sekaligus berkaitan dengan anggaran maupun SDM yang dimiliki. Pada tahun 2024, usulan pembentukan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan akan diajukan kembali dan diharapkan hal tersebut disetujui sehingga kerja-kerja literasi bersama komunitas dapat terwujud.

Materi kedua adalah “Praktik Baik Literasi di Komunitas Literasi Halmahera Timur” yang dipresentasikan oleh Hamdan Latawan dalam kapasitasnya sebagai   Ketua Sanggar Gisbayo. Sebagai ketua Sanggar Gisbayo, narasumber menjelaskan tentang berbagai kegiatan komunitas di bidang literasi, terkhusus literasi yang didominasi oleh seni dan budaya, misalnya tari-tarian pada acara di tingkat desa. Ada pula kegiatan lain seperti pelatihan menulis puisi yang ditujukan bagi anggota komunitas. Praktik baik yang dapat dipelajari oleh komunitas lain adalah bagaimana Sanggar Gisbayo menguatkan identitas lokal melalui praktik literasi budaya yang mereka jalankan.

Materi ketiga adalah “Pengelolaan, Program Kerja, dan Ragam Kegiatan Literasi di Komunitas Literasi” yang disampaikan oleh Mariati Atkah, S.S. (Pengkaji Bahasa dan Sastra di Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara). Ia menjelaskan bahwa sebelum menyusun ragam kegiatan komunitas literasi dan program kerja, pengelola harus mempertimbangkan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut harus memenuhi fungsi komunitas sebagai ruang informasi, ruang rekreasi, ruang belajar, dan ruang jejaring. Selanjutnya dipaparkan berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh TBM di nusantara.

Pemateri kemudian menunjukkan contoh video TBM yang berhasil membuat program inspiratif dan berdampak kepada masyarakat. Setelah itu peserta dikelompokkan dan diberi tugas untuk menuliskan pengamatannya terhadap video yang telah ditampilkan. Peserta diminta untuk mengamati kedua video tersebut lalu menuliskan kesan yang mereka peroleh tentang apa yang unik, apa yang serupa dengan yang ada di komunitas mereka, dan apa yang bisa direplika atau ditiru untuk diterapkan di komunitas masing-masing.

Mereka juga diminta untuk menyusun rancangan program kerja untuk dapat diterapkan di komunitas masing-masing. Adapun formatnya mulai dari nama program, deskripsi waktu pelaksananaan, durasi, tempat/lokasi, penangung jawab, tujuan pelaksanaan kegiatan, jenis litrasi, sasaran, mitra pelaksana, pembiayaan, instrumen, dan publikasi.

Pada hari kedua, materi pertama disampaikan oleh Riskal Ahmad, S.S. (Widayabasa Ahli Pertama dan PJ KKLP Penerjemahan Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara) dengan judul materi “Sosialisasi KKLP Penerjemahan: Penulisan Cerita Anak Dwibahasa”. Narasumber memaparkan bahwa kegiatan penerjemahan adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara dalam menurunkan kerumpangan ketersediaan bacaan literasi, baik yang berbahasa daerah maupun berbahasa Indonesia. Kegiatan penerjemahan pertama kali dilaksanakan pada tahun 2021 yakni kegiatan Inventarisasi Karya Sastra di Maluku Utara dalam hal ini di Kota Tidore Kepulauan. Tahun 2022, KKLP Penerjemahan menghasilkan empat naskah dalam dua bahasa melalui kegiatan Sayembara Penulisan Cerita Anak Maluku Utara. Berikutnya pada tahun 2023, KKLP Penerjemahan menghasilkan 20 naskah cerita anak dwibahasa jenjang B-1 melalui kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan Buku Cerita Anak Dwibahasa. Naskah tersebut bertemakan kearifan lokal Maluku Utara dan berbasis STEAM. Terakhir, pada tahun 2024, KKLP Penerjemahan memiliki target 36 naskah/judul cerita anak dwibahasa yang dilaksanakan melalui kegiatan sayembara dan bimbingan teknis.

Narasumber selanjutnya adalah Insos Jemima Santoke Komboy, S.S. (Widayabasa Ahli Pertama Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara). Ada dua materi yang disampaikan, pertama berjudul “Membacakan Nyaring” dan materi kedua berjudul “Pengelolaan dan Penataan Buku”. Kedua materi ini berlangsung dengan melibatkan partisipasi aktif peserta untuk mempraktikkan cara membacakan nyaring dan membuat rak buku dari bahan kardus yang sudah disiapkan oleh panitia. Masing-masing kelompok membuat rak buku sekaligus memajang buku sesuai dengan tata cara yang sudah disampaikan oleh narasumber.

Materi terakhir yang berjudul “Penyusunan Proposal Program Kreatif dan Portofolio Komunitas Literasi” oleh Mariati Atkah, S.S. Narasumber memaparkan bahwa secara umum, format proposal mencakup lima bagian besar. Satu, judul/nama kegiatan yang harus memuat seluruh rangkaian kegiatan. Dua, latar belakang berupa penjelasan atau keterangan dalam bentuk uraian paragraf yang memuat isi berupa alasan kenapa kegiatan tersebut penting dilaksanakan. Tiga, isi kegiatan berupa deskripsi kegiatan, tujuan dan manfaat kegiatan, bentuk dan jenis kegiatan, waktu dan tempat kegiatan, sasaran peserta, susunan panitia, rencana anggaran biaya, dan jadwal kegiatan. Empat, lampiran berupa legalitas sebuah komunitas literasi, surat domisili, nomor rekening komunitas literasi, NPWP, dan struktur organisasi. Lima, lain-lain mencakup kelengkapan lain yang diminta oleh pihak donor atau pemberi bantuan.

Peserta yang telah mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat menindaklanjuti dan mengimplementasikan materi-materi yang mereka dapatkan dari bimbingan teknis pada proses pembelajaran literasi di komunitas masing-masing. Hal tersebut perlu dilakukan demi terwujudnya tata kelola komunitas yang semakin baik dan dapat lebih menarik minat masyarakat, terutama anak-anak, melalui program-program literasi yang diselenggarakan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *