Seiring dengan semakin dikenalnya kata literasi, semakin banyak pula bermunculan komunitas yang menyatakan diri berfokus pada aktivitas literasi dengan berbagai nama dan bentuk. Kegiatan komunitas literasi sangat beragam, tidak hanya fokus pada membaca, menulis, dan menghitung saja. Lebih dari itu, komunitas literasi dapat melakukan perluasan aktivitas sesuai dengan gagasan kreatif yang dimiliki.

Dalam mempertahankan keberadaannya dan melaksanakan kegiatannya, setiap komunitas literasi mempunyai strategi masing-masing. Di Kabupaten Pulau Morotai, dominan komunitas literasi membiayai lembaganya secara independen meski sesungguhnya cukup terbuka peluang untuk pengajuan dana dan kolaborasi dengan pihak tertentu. Hal itu disebabkan kendala administrasi terkait aspek formal dan legalitas komunitas dan juga kurangnya pengetahuan tentang cara mengakses dana tersebut.

Keberadaan komunitas literasi sangat didukung oleh lingkungannya masing-masing karena membawa dampak yang baik khususnya dalam bidang pendidikan. Setiap ada kegiatan komunitas, masyarakat setempat memberi donasi sesuai dengan kemampuannya. Namun, komunitas dapat lebih dikembangkan lagi apabila mereka memiliki kemandirian finansial. Kemandirian finansial sendiri diartikan sebagai kondisi di mana komunitas memiliki sumber penghasilan alternatif yang bisa memenuhi kebutuhan dalam pelaksanaan program kerjanya.

Dengan demikian, diperlukan upaya untuk memberdayakan dan menguatkan komunitas dari segi finansial. Salah satu bentuk penguatan finansial komunitas yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan bengkel keterampilan. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan praktis anggota komunitas; meningkatkan pengetahuan dan motivasi berkarya; serta menciptakan peluang pemasaran produk kreatif sehingga komunitas literasi dapat lebih berdaya secara finansial untuk mendukung pelaksanaan program kerjanya.

Berdasarkan penjelasan di atas, Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara menyelenggarakan kegiatan Bengkel Keterampilan Anggota Komunitas Literasi di Kabupaten Pulau Morotai pada tanggal 7 Maret 2024 di Hotel Molokai, Jalan Pelabuhan Feri, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai. Kegiatan ini menyasar seluruh anggota komunitas literasi yang belum memiliki sumber pendanaan tetap.

Materi pertama adalah “Penyusunan Proposal Program Kreatif dan Portofolio Komunitas Literasi” yang disampaikan oleh Mariati Atkah, S.S. (Pengkaji Bahasa dan Sastra Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara). Penjelasan dimulai dengan kategorisasi komunitas literasi, identitas yang perlu dimasukkan ke dalam profil komunitas, serta legalitas komunitas yang wajib dipenuhi agar dapat mengakses bantuan pemerintah untuk komunitas literasi pada tahun anggaran 2024. Bantuan yang diajukan diperuntukkan bagi komunitas untuk dapat melakukan penguatan kapasitas pengurus dan anggota (diskusi, pelatihan pengelolaan komunitas, pelatihan menulis, dll); penambahan koleksi bahan bacaan yang menunjang (sesuai dengan program dan kebutuhan anggota komunitas); dan penguatan literasi dalam memberdayakan masyarakat sekitar (diskusi/seminar, membacakan nyaring untuk kelompok masyarakat, mendongeng, pelatihan, dll).

Materi kedua berjudul “Niaga Bahasa” yang disampaikan oleh Insos Jemima Santoke Komboy, S.S. (Widyabasa Ahli Pertama Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara). Narasumber memaparkan bahwa  Niaga Bahasa merupakan krida duta bahasa yang bertujuan meningkatkan peran dan fungsi bahasa Indonesia dan daerah melalui pemanfaatan bahasa dan sastra sebagai prasarana untuk meningkatkan taraf hidup dan perekonomian (masyarakat). Niaga Bahasa diharapkan dapat membuka perspektif baru bagi generasi muda untuk mencoba menggiatkan ekonomi kreatif berbasis bahasa dan sastra.

Kegiatan-kegiatan Niaga Bahasa yang telah dilakukan oleh Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara pada tahun 2023 antara lain Pelatihan Keterampilan Anggota Komunitas Literasi di Kabupaten Halmahera Utara, Pelatihan Keterampilan Anggota Komunitas Literasi di Kota Ternate, serta Pameran dan  Diskusi Kebahasaan dan Kesastraan di Kota Ternate. Semua kegiatan ini memanfaatkan sumber daya yang dekat dengan komunitas dan dapat dengan mudah diimplementasikan.

Materi selanjutnya adalah “Kebijakan dan Strategi Pengembangan Ekonomi Kreatif di Komunitas Literasi” yang disampaikan oleh Faisal Kudo, S.I.P. selaku Kepala Bidang Ekonomi Kreatif. Beliau mewakili Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pulau Morotai untuk memaparkan materi. Dalam rangka pengembangan kelompok literasi untuk pembinaan ekonomi kreatif di Kabupaten Pulau Morotai, sejauh ini Dinas Pariwisata belum pernah berkolaborasi dengan komunitas literasi manapun, akan tetapi terdapat beberapa program yang dapat dijalankan di masa mendatang antara lain pelaksanaan festival budaya (literasi budaya dan kewargaan), pengembangan SDM komunitas literasi dalam perspektif ekonomi kreatif (literasi finansial), serta pengembangan destinasi wisata berbasis literasi.

Materi terakhir adalah “Produk Ekonomi Kreatif di Kabupaten Pulau Morotai” yang dipaparkan oleh Haidir Arsyad, S.I.P. Beliau adalah ketua Kelompok Kreatif Balitako Hills yang beralamat di Desa Joubela, Kec. Morotai Selatan, Kab. Pulau Morotai. Ia memaparkan tentang potensi sumber daya alam yang ada di Pulau Morotai yang dapat ditingkatkan nilainya menjadi produk bernilai jual. Pulau Morotai memiliki sebuah varietas tanaman domestik yaitu kelapa bido. Lokasi penanamannya terletak di Desa Bido, Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai. Kelapa merupakan tumbuhan serbaguna mulai dari akar, batang, bunga, buah sampai dengan daun. Bagian dari kelapa yang berharga tetapi kurang dimanfaatkan adalah tempurung/batoknya. Batok kelapa biasanya akan dibuang begitu saja atau sekadar dibuat sebagai arang padahal dapat ditingkatkan nilaniya. Limbah inilah yang dioleh oleh Kelompok Kreatif Balitako Hills menjadi asbak dan gelas.

Bahan alam lain yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kerajinan adalah bambu. Bambusa maculata atau bambu tutul adalah salah satu spesies bambu di Indonesia, bambu ini juga sangat banyak tumbuh di Maluku Utara, termasuk Pulau Morotai. Jenis bambu ini memiliki tampilan sangat unik karena pola coklatnya yang tersebar di seluruh permukaan. Produk berbahan bambu yang dihasilkan Kelompok Kreatif Balitako Hills terdiri dari gelas. Kelompok ekonomi kreatif lain seperti Tabadiko dapat membuatnya menjadi kursi, dan pajangan berupa kapal layar, gerobak, maupun pesawat terbang.

Selain kelapa dan bambu, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah pasir dan kerang yang melimpah di sepanjang pantai Pulau Morotai dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Kreativitas manusialah yang menentukan apakah bahan-bahan itu dibiarkan saja atau dapat dikelola menjadi produk bernilai tambah. Setelah memaparkan materi secukupnya, narasumber kemudian mengajak peserta untuk melakukan praktik membuat suvenir sederhana.

Setelah praktik, para peserta kemudian diminta untuk membuat kartu label untuk produk yang kelak akan mereka buat. Label tersebut berisi nama komunitas dan slogan dalam bahasa daerah masing-masing. Bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Galela dan Tobelo, tetapi ada juga yang menggunakan bahasa Bugis dan Sangir, tergantung lokasi tempat tinggal mereka.

Peserta yang telah mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat menindaklanjuti dan mengimplementasikan materi-materi yang mereka dapatkan dari bengkel keterampilan di komunitas masing-masing. Hal tersebut perlu dilakukan agar komunitas menjadi semakin mandiri, memiliki kemampuan untuk menjalankan suatu usaha berbasis kriya dengan memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia di sekitar mereka, bisa membuka akses dan jaringan pasar serta menjalin hubungan dengan berbagai kelompok usaha kerajinan tangan, maupun dengan instansi pemerintah yang mewadahi pengembangan ekonomi kreatif. Dengan demikian, pada akhirnya komunitas literasi diharapkan mampu mengelola lembaga dan kegiatan-kegiatannya secara lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *