Dalam rangka penyediaaan produk penerjemahan dan penjurubahasaan yang berkualitas demi mendukung interaksi ilmiah dan kultural antarkomunitas dalam lingkup nasional dan internasional, Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara telah melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan Cerita Anak Maluku Utara Tahun 2024 pada tanggal 6—9 Maret 2024 di Hotel Muara Ternate, Jalan Merdeka Nomor 19, Gamalama, Ternate Tengah, Kota Ternate. Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan merupakan tahapan kedua dari pelaksanaan kegiatan penyediaan produk penerjemahan di balai/kantor bahasa. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan luaran berupa produk penerjemahan cerita anak jenjang pembaca awal (B-1) yang bertemakan pemajuan budaya lokal dan bersubstansi STEAM (science, technology, engineering, art, and math) sebagai bahan bacaan yang berkualitas dan pendukung diplomasi bahasa Indonesia.

Ruang lingkup kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan Cerita Anak Maluku Utara Tahun 2024 adalah peserta yang terlibat merupakan pemenang sayembara. Peserta memperoleh pendampingan dalam menyusun cerita anak dwibahasa (bahasa daerah—bahasa Indonesia) dari narasumber. Selain itu, peserta juga memperoleh materi antara lain; 1) Pengenalan Program KKLP Penerjemahan di Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara, 2) Kaidah dan Tata Bahasa Indonesia, 3) Kearifan Lokal Maluku Utara dalam Cerita Anak, 4) Penulisan Cerita Anak, 5) Praktik Teknik Penulisan Cerita Anak, 6) Penjaringan Bahan Terjemahan Cerita Anak Berbahasa Daerah, 7) Penerjemahan Bahasa Daerah, dan 8) Teori Penerjemahan: Tinjauan Umum. Adapun bentuk pelaksanaan kegiatan berupa pemaparan materi dan praktik mandiri yang dikerjakan oleh peserta kegiatan.

Kegiatan hari pertama, tanggal 6 Maret 2024, pembukaan dilaksanakan pukul 11.00 WIT. Diawali dengan laporan ketua panitia dan dilanjutkan dengan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Bapak Muslim Gani. Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate sangat mengapresiasi kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan dan Penerjemahan Cerita Anak Maluku Utara Tahun 2024 yang dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dianggap perlu untuk terus dilaksanakan tiap tahunnya. Selain menghasilkan naskah cerita anak untuk kebutuhan literasi, kegiatan ini juga mendukung program yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yakni pelestarian bahasa dan sastra Indonesia melalui program Merdeka Belajar Episode ke-17; Revitaliasasi Bahasa Daerah.

Selanjutnya materi Pengenalan Program KKLP Penerjemahan di Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara yang disampaikan oleh Nurul Qadri Ma Fayaupon (Pengkaji Bahasa dan Sastra di Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara). Ia menyampaikan bahwa kegiatan penerjemahan merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara dalam menurunkan kerumpangan ketersediaan bacaan literasi, baik yang berbahasa daerah maupun berbahasa Indonesia. Hal itu dimaksudkan untuk meningkatkan budaya literasi dan minat baca anak-anak Indonesia sehingga terwujud pelajar Pancasila yang berorientasi pada kebinekaan nasional dan global.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Anjasmoro Wibowo, S.S. (Pengkaji Bahasa dan Sastra di Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara). Judul materi yang disampaikan adalah Kaidah dan Tata Bahasa Indonesia. Materi diawali dengan pengenalan sejarah ejaan mulai dari Ejaan van Ophuijsen, Ejaan Republik, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, dan kembali ke Ejaan yang Disempurnakan.

Poin pertama yang dibahas adalah ejaan yang meliputi penggunaan huruf kapital, huruf miring, dan tanda baca (titik, koma, titik dua, titik koma, tanda hubung, tanda pisah, dan garis miring). Selanjutnya terkait bentuk dan pilihan kata. Ada tiga bagian utama yang dibahas yakni, 1) bentuk kata yang meliputi kata dasar; 2) pembentukan kata yang meliputi pengimbuhan, penggabungan, pengulangan, dan pengakroniman; dan 3) pemilihan kata yang meliputi ketepatan, kecermatan, dan keserasian.

Narasumber selanjutnya adalah Riskal Ahmad, S.S. (Widyabasa Ahli Pertama di Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara). Judul materi yang disampaikan adalah Kearifan Lokal Maluku Utara dalam Cerita Anak. Materi diawali dengan definisi kearifan lokal yang dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahun setempat (local knowledge) dan kecerdasan setempat (local genious). Warisan budaya di Maluku Utara mengandung nilai-nilai luhur yang penting dalam pembentukan karakter. Pembentukan karakter pada anak dapat dilakukan dengan mengenalkan budaya lokal. Salah satu bentuk pengenalan budaya lokal yakni melalui buku.

Kegiatan hari kedua, tanggal 7 Maret 2024, diawali dengan penyampaian materi pertama yang disampaikan oleh Ali Muakhir yang merupakan penulis cerita anak. Judul materi yang disampaikan adalah Penulisan Cerita Anak. Materi diawali dengan pengenalan sastra, sastra anak, ragam sastra anak, dan meneliti sastra anak.

Sastra adalah tulisan khas yang memanfaatkan kata yang khas, tulisan yang beroprasi dengan cara yang khas, dan menuntut pembaca yang khas pula. Karya sastra bisa membuat pembacanya lebih manusiawi karena jadi bisa mengenal diri, sesama, lingkungan, dan berbagai permasalahan kehidupan. Ragam sastra anak meliputi, sajak (kata bijak yang terdiri atas satu atau dua kalimat), cerita fantasi (cerita dengan tokoh binatang), cerita realistik (cerita yang bersumber dari masyarakat tertentu), biografi (cerita yang berisi kisah hidup seseorang yang luar biasa), fiksi sejarah (cerita yang menggunakan setting sejarah bangsa), dan drama (cerita atau karya sastra yang bertujuan dipentaskan di depan penonton).

Meneliti sastra anak dapat dilakukan melalui empat pendekatan. Pertama, pendekatan formalis yakni menilai karya berdasar kebutuhan struktur ceritanya. Kedua, pendekatan historis yakni menilai karya berdasarkan historis penulis, kemunculan karya, kondisi sosial politik, dan sebagainya. Ketiga, pendekatan feminis yaknis menilai karya berdasarkan sudut pandang perempuan. Keempat, pendekatan psikoanalitik yakni menilai karya berdasarkan latar belakang psikologi penulisnya atau tokoh-tokoh yang diciptakannya.

Materi selanjutnya yaitu Menulis Cerita Anak dengan Riang Gembira. Ada tujuh bagian penting yang dibahas. Pertama, mengenal cerita anak. Kedua, ciri-ciri cerita anak. Ketiga, jenis-jenis cerita anak, keempat, unsur menulis cerita anak. Kelima, bagaimana menulis cerita anak. Keenam, apa yang tidak boleh?. Ketujuh, tambah nilai, yuk!

Masih dengan narasumber yang sama, materi selanjutnya adalah Membuat Storyboard. Storyboard atau papan cerita adalah rangkaian sketsa gambar yang digunakan untuk menggambarkan alur cerita. Papan cerita digunakan sebagai patokan awal dalam menulis buku bergambar. Papan cerita dalam buku bergambar bisa dalam bentuk deskripsi yang mudah dipahami pembaca dan ilustrator.

Unsur dalam papan cerita meliputi data, ide, sinopsis, penokohan, dan teks. Ada satu metode membuat skrip ilustrasi yang mudah diterapkan dan dipahami ilustrator yaitu metode pandangan. Membuat skrip ilustrasi dengan sudut pandang pengambilan gambar. Ada tujuh sudut pandang yang bisa digunakan. Pertama, pandangan elang terbang. Kedua, pandangan manusia. Ketiga, pandangan mata katak. Keempat, pandangan dekat. Kelima, pandangan sangat dekat. Keenam, pandangan jauh. Ketujuh, pandangan sangat jauh.

Materi diakhiri dengan pengenalan perjenjangan. Perjenjangan buku adalah pemadupadanan antara buku dan pembaca sasaran sesuai dengan tahap kemampuan membaca. Tujuan perjenjangan meliputi alat ukur untuk memperoleh naskah dan penerbian buku bermutu yang sesuai dengan pembaca sasaran, alat ukur untuk menilai buku tersebut untuk pendidikan atau bacaan umum, alat ukur untuk menyediakan buku sesuai dengan pembaca sasaran, dan alat ukur untuk penggunan buku sesuai dengan pembaca sasaran. Klasifikasi pembaca mulai dari pembaca dini (A) usia sekitar 0—7 tahun, pembaca awal (B) usia sekitar 6—10 tahun, pembaca semenjana (C) usia sekitar 10—12 tahun, pembaca madya (D) usia sekitar 13—15 tahun, dan pembaca mahir (E) usia 16 tahun ke atas. Selanjutnya, Ali Muakhir mendampingi semua peserta yang hadir untuk memberikan arahan atau konsultasi naskah agar naskah yang dihasilkan dari kegiatan ini lebih maksimal dan bermutu tinggi.

Kegiatan hari ketiga, 8 Maret 2024, diawali dengan materi Menulis dan Teknik Menerjemahkan Cerita Anak dalam Bahasa Daerah yang disampaikan oleh Resen Doksama. Menulis pada hakikatnya adalah sebuah proses yang dapat dipelajari. Menulis bukan hanya sekadar bakat atau tidak bakat, melainkan kegiatan yang memerlukan kerja keras, paham bahasa, disiplin, ketekunan, kreatifitas, imajinasi, serta penguasaan aspek kebahasaan. Secara mendasar, menerjemahkan adalah proses kegiatan mentransfer pesan atau informasi dari sketsa bahasa sumber ke dalam bahasa teks bahasa sasaran dengan tidak mengubah makna atau arti yang sesungguhnya dari bahasa sumber.

Ada tiga teknik menerjemahkan cerita anak  bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya, yakni 1) menerjemahkan dari satu suku kata ke kata yang lain sehingga menjadi satu kalimat atau lebih dengan tidak mengurangi sedikitpun makna dan arti yang ada dalam cerita sumber; 2) menerjemahkan dari satu kalimat ke kalimat lainnya dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah yang ada dalam cerita sumber; dan 3) menerjemahkan dari satu paragraf ke paragraf lain dengan tetap memperhatikan fungsi-fungsi dari bahasa sumber.

Materi kedua disampaikan oleh koordinator KKLP Penerjemahan Pustanda, Ibu Marike Ivone Onsu. Judul materi yang dipaparkan adalah Penjaringan Bahan Terjemahan Cerita Anak Berbahasa Daerah. Prosesnya diawali dengan penjaingan bahan dapat melalui sayembara penulisan cerita anak, bimbingan teknis penulisan cerita anak, seleksi naskah, dan sayembara berbasis komunitas. Kedua, dilakukan penelaahan naskah sumber yang telah didapatkan kemudian ditelaah dan disunting oleh narasumber. Ketiga, dilakukan penerjemahan cerita anak dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Keempat, ilustrasi dan pengatakan naskah yang telah final isi ceritanya. Kelima, penyelarasan akhir berupa draf buku terjemahan cerita anak disunting dan diverifikasi oleh tim KKLP Penerjemahan Balai/Kantor Bahasa. Keenam, publikasi berupa pendaftaran ISBN, penilaian buku, dan publikasi.

Materi terakhir diisi oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara, Dr. Arie Andrasyah Isa, S.S., M.Hum. dengan judul materi Teori Penerjemahan: Tinjauan Umum.

Hasil yang dicapai pada kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman 34 peserta bimbingan teknis penulisan dan penerjemahan cerita anak Maluku Utara tentang kaidah bahasa Indonesia, penulisan cerita anak, kearifan lokal Maluku Utara, penerjemahan secara umum,  penerjemahan bahasa daerah, dan praktik teknik penulisan cerita anak. Selain itu, dihasilkan 40 naskah cerita anak dalam dua bahasa (bahasa daerah—bahasa Indonesia) yang siap ditindaklunjuti untuk diteruskan ke penyunting dan ilustrator. #PrapelaksanaanPenerjemahan #KKLPPenerjemahan #ProdukPenerjemahan #PenulisanCeritaAnakMalukuUtara #CeritaAnakMalukuUtara #KantorBahasaMalukuUtara #DisdikKotaTernate #DisdikTikep #KomunitasLiterasiMalukuUtara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *