Penulis:

Filsah Zulfakar & Nurdiana A.Quilo

Duta Bahasa Provinsi Maluku Utara Tahun 2022

Literasi memiliki relevansi yang erat dengan sociolinguistic. Gagasan tersebut menjelaskan bahwa literasi merupakan praktik sosial yang menekankan bahasa sebagai sarananya. Keterkaitannya literasi dan praktik sosial dapat ditemukan dalam aspek lainnya yaitu seperti tingkat berbahasa dan membaca (Perry, 2012, hal. 52). Selanjutnya, bahasa dan satra menjadi salah satu aspek yang signifikan dalam kehidupan sosial maupun bermasyarakat. Persepsi ini menunjukkan bagaimana peran bahasa dan sastra bersama fungsingya pada kehidupan sosial seperti sebagai sarana komunikasi, kontrol sosial, integrasi, dan juga pembentuk karakter serta pengembangan kecerdasan. Pengembangan kecerdasan ini dimaknai sebagaimana individu mampu mengartikan sebuah penjelasan yang bersifat umum menjadi khusus dengan memiliki banyak kosakata. Contoh argumen ini didukung dengan bagaimana membaca sebagai salah satu bentuk literasi tidak membuat seorang menjadi “cerdas” namun dapat membuka pengetahuan, menambah kosakata, dan membentuk pemikiran abstrak bagi individu tersebut (E.Stanovich, 1993, hal. 170).

Sebuah penelitian dari jurnal Psychological Science menyatakan literasi (membaca) adalah target dari banyak pendidikan awal karena dianggap menjadi aspek terpenting bagi anak-anak atau generasi muda. Dua aspek seperti Membaca (Literasi) dan berhitung merupakan kecerdasan nonkognitif anak-anak karena tidak didapatkan secara langsung maupun melalui bakat alami . Maka dari itu, sangat penting mengenalkan individu terkait membaca atau berhitung pada anak-anak usia dini yang kemudian dapat membantu evolusi pemikiran mereka terhadap pemecahan masalah dan penalaran abstrak (Kovas, et al., 2013). Oleh sebab itu, upaya dalam mengembangkan kecerdasan para pemuda terutama dalam aspek literasi dapat ditemukan dengan memanfaatkan berbagai perantara (media). Pemanfaatan beragam perantara yang dijumpai seperti penggunaan teknologi informasi, gawai, media sosial, dan multimedia menjadi penunjang pembelajaran bahasa atau literasi.

Di era digital, kemunculan teknologi informasi memiliki persinggungan yang erat dengan globalisasi. Dalam ranah edukasi, globalisasi membawa pergerakan masyarakat menjadi komunitas interkoneksi sehingga mampu membuka peluang bagi individu untuk mempelajari hal baru (Ball, Dworkin, & Vryonides, 2010, hal. 526-528). Dengan melihat penjelasan tersebut, literasi dan digitalisasi adalah dua variabel yang kemungkinan memiliki kesinambungan. Gagasan untuk menggabungkan literasi dan pemanfaatan teknologi informasi merupakan cara yang relevan. Hal ini dikarenakan internet sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari teknologi informasi bisa menjadi penggerak dan salah satunya melalui media sosial  (Schlegel, 2000). Karchmer (2001) menggagaskan bahwa ada banyak karateristik pemanfaatan sarana teknologi informasi, multimedia, media sosial yang kemudian dibuktikan mampu menjunjung tingkat literasi pada anak muda. Salah satu karakteristik yang secara empiris dapat diketahui yaitu kombinasi literasi dan digital. Literasi digital melibatkan fitur digital dan tulisan elektronik (electronic text) yang berbeda dengan penulisan cara tradisional (Traditional Written Prose) kepada pembaca maupun peminatnya.

Pemfokusan lainnya mengenai signifikansi dari literasi dan digital yaitu terdapatnya digital visual literacy (DVL) atau lebih dikenal dengan literasi berbasis visual-digital. Seperti kebanyakan jenis literasi lainnya, DVL menekankan tentang bagaimana individu mendapatkan informasi, berpikir kritis, dan mampu berkomunikasi melalui materi visual. Contoh relevan jenis DVL atau literasi berbasis visual-digital yang bisa kita kaitkan adalah bacaan dalam berita, gambar, seni tiga-dimensi, animasi dan lainnya (Spalter & Dam, 2008, hal. 94). Hal ini terbukti menunjang pembentukkan kecerdasan bagi anak-anak dan generasi muda terkait pemahaman pentingnya literasi, bahasa, dan membaca. Selain itu, peran guru dalam membimbing penggunaan media digital sangat diperlukan sebagaimana tenaga pengajar atau guru agar dapat beradaptasi dengan bentuk lingkungan pengajaran yang baru. Pengajar memiliki tujuan untuk mengapai minat literasi para pemuda. Jika literasi seperti ini tidak dapat dicapai, maka murid atau anak-anak dapat mengalami keterlambatan dalam pemahaman serta penggalian pengetahuan (Eyal, 2012, hal. 47).

Meskipun demikian, menurunnya minat generasi muda terhadap literasi bahasa Indonesia maupun bahasa daerah sudah terlihat sejak munculnya dampak globalisasi ini. Sudah seharusnya bagi kita untuk menyadari keutamaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa dan bahasa daerah sebagai identitas budaya yang harus dilestarikan. Selain itu, pernyataan ini didukung dengan pendapat Murti (2015) yang menyatakan warga negara Indonesia dengan bahasa Indonesia adalah bentuk jati diri yang sebagaimana tertuang pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 (Murti, 2015). Selain bahasa Indonesia, kesadaran untuk melestarikan bahasa daerah tergolong minim dan terancam punah. Hal ini dikarenakan oleh hilangnya penutur asli atau disebabkan oleh faktor derasnya perkembangan dunia sehingga kaum milenial tidak peduli dengan pemberdayaan bahasa daerah. Oleh karena itu, Peran literasi dalam masa Perkembangan teknologi informasi seharusnya dapat membawa dampak positif terhadap perkembangan bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah karena teknologi dapat menjadi wadah untuk mendidik dan menyebarluaskan pemahaman Indonesia dan bahasa daerah.

Pembahasan sebelumnya kemudian merujuk pada kondisi masyarakat terhadap tingkat literasi di Maluku Utara. Tingkat literasi di Maluku Utara terutama di Era Digital menjadi tantangan tersendiri untuk ditangani bagi Duta Bahasa Provinsi Maluku Utara tahun 2022. Bagaimanapun, kondisi di lapangan mengenai tingkat literasi masyarakat belum berkembang secara memadai (Abdullah & Wicaksono, 2020). Maka dari itu, Duta Bahasa Provinsi Maluku Utara memiliki peran penting dalam mengimplementasikan literasi digital untuk mengembalikan fungsi bahasa Indonesia dan bahasa daerah terhadap masyarakat Maluku Utara. Sebagai perwujudan kontribusi terhadap kebahasaan dan kesastraan di Maluku Utara tahun 2022 serta upaya dalam meningkatkan kecerdasan anak muda, Duta Bahasa mencanangkan tiga program kerja sebagai krida kebahasaan dan kesastraan guna mengembalikan esensi bahasa Indonesia dan cinta terhadap bahasa daerah. Ketiga program kerja yang dicanangkan, yakni Komifa (Komik Majarita Ngofa), Alughram, dan SinBa (Siniar Bahasa).

Program-program krida kebahasaan dan kesastraan yang dijalankan oleh para Duta Bahasa Provinsi Maluku Utara merupakan upaya pemanfaatan kolaborasi antara literasi dengan wadah teknologi informasi, multimedia, dan visualisasi. Program Pertama, Komifa, merupakan program kerja yang memanfaatkan literasi cerita anak melalui visual komik. Awal program kerja Komifa berfokus kepada literasi dan pengenalan kata dalam bahasa daerah. Namun demikian, tim Duta Bahasa Maluku Utara melakukan improvisasi terhadap produk Komifa. Kini Komifa dihadirkan dalam bentuk komik cerita anak khas budaya Maluku Utara dengan tribahasa (bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris). Komifa kini telah disebarkan kepada anak-anak serta siswa sekolah dasar dan komunitas literasi.

Selain Komifa, program kerja yang dijalankan selanjutnya yaitu Alughram. Alughram adalah program kerja yang diproduksi dengan gabungan pembelajaran bahasa daerah dan animasi. Dengan melalui laman Instagram, Alughram dapat diakses secara terbuka oleh siapa saja. Program kerja yang dicanangkan lainnya yaitu SinBa (Siniar Bahasa). SinBa merupakan bentuk program kerja pembelajaran bahasa dan diskusi mengenai kebahasaan dan kesastraan, khususnya bahasa daerah. SinBa dalam hal ini memanfaatkan aplikasi Spotify sehingga dapat diakses oleh siapa saja secara terbuka dan fleksibel. Hal ini kemudian menjadi indikator penunjang keberhasilan akan terealisasinya literasi bagi kaum generasi muda. Dengan melalui pendekatan teknologi informasi dan pemanfaatan multimedia, ketiga program kerja ini diharapkan mampu menarik minat kawula muda tidak hanya melalui visualisasi namun berdampak pada pembelajaran, pemberdayaan, serta penguasaan bahasa dan sastra yang kemudian dapat memberi dampak postif terhadap perkembangan tingkat kecerdasan generasi muda di Maluku Utara.

Bibliografi

Abdullah, S., & Wicaksono, J. (2020). URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS LITERASI DIGITAL PADA SISWA SDN 39KOTA TERNATE. “Transformasi Pendidikan Menyogsong SDM di Era Society 5.0 “ (hal. 1-20). Jakarta: Prosiding Seminar dan Diskusi Nasional Pendidikan Dasar .

Ball, S., Dworkin, A., & Vryonides, M. (2010, July 1). Globalization and Education: Introduction. Current Sociology, 58(4). doi:https://doi.org/10.1177/0011392110367987

E.Stanovich, K. (1993). Does Reading Make You Smarter? Literacy and the Development of Verbal Intelligence. Advances in Child Development and Behavior, 24, 133-180. doi:https://doi.org/10.1016/S0065-2407(08)60302-X

Eyal, L. (2012). Digital Assessment Literacy — the Core Role of the Teacher in a Digital Environment. Educational Technology & Society, 15(2), 37-49. Dipetik Oktober 12, 2022, dari http://www.jstor.org/stable/jeductechsoci.15.2.37

Karchmer, R. A. (2001). The Journey Ahead: Thirteen Teachers Report How the Internet Influences Literacy and Literacy Instruction in Their K-12 Classrooms. Reading research quarterly, 36(4), 442-466. doi:https://doi.org/10.1598/RRQ.36.4.5

Murti, S. (2015). Eksistensi Pengunaan Bahasa Indonesia di Era Globalisasi. Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa UNIB 2015. 

Kovas, Y., Voronin, I., Kaydalov, A., Malykh, S., Dale, P., & Plomin, R. (2013). Literacy and Numeracy Are More Heritable Than Intelligence in Primary School. Psychological Science, 24(10), 2048 –2056. doi:https://doi.org/10.1177/0956797613486982

Perry, K. H. (2012). What is Literacy? – A Critical Overview of Sociocultural Perspectives. Journal of Language & Literacy Education, 8(1), 50-71. Diambil kembali dari http://jolle.coe.uga.edu/wp-content/uploads/2012/06/What-is-Literacy_KPerry.pdf

Schlegel, A. (2000). The Global Spread of Adolescent Culture. In L. Crockett, & R. Silbereisen (Eds.), Negotiating Adolescence in Times of Social Change (pp. 71-88). New York: Cambridge University Press.

Spalter, A. M., & Dam, A. v. (2008). Digital Visual Literacy. Theory Into Practice, 47(2), 93-101. doi:https://doi.org/10.1080/00405840801992256

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *