Hibriditas dan Mimikri dalam Karya Sastra

Karya sastra adalah potret kehidupan manusia yang direpresentasikan dari pemikiran pengarang dan mewakili keadaan atau zaman tertentu. Sebagai contoh zaman kolonial yang digunakan untuk menggali wacana-wacana kolonialisme. Karya sastra yang ditulis oleh pihak penjajah maupun terjajah dalam prosesnya seringkali menyerap, mengambil, dan menulis aspek-aspek dari budaya lain serta menciptakan genre, gagasan-gagasan, dan identitas baru. Dengan demikian, karya sastra merupakan sarana penting untuk mengambil, membalikkan, atau menantang sarana-sarana dominan penggambaran dan ideologi-ideologi kolonial (Loomba, 2003: 92-93). Hal tersebutlah yang mendasari adanya penelitian pada karya sastra. Jadi, sangatlah perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap karya sastra dengan menggunakan berbagai perspektif teori guna mengetahui bagaimana isi dan bentuk dari karya sastra tersebut serta menambah literatur pengkajian karya sastra.

Karya sastra poskolonialisme dibangun atas unsur-unsur yang menyuarakan problem-problem poskolonial yang dilatarbelakangi oleh kolonialisasi dan kekuatan imperial. Unsur tersebut adalah relasi kuasa di dalam teks, terpaparnya hubungan antara barat dan timur, orientalisme, oksidentalisme, eksotika, ambivalensi atau sikap ambigu terhadap penjajah, hibrida, mimikri atau peniruan, liyan (the other), dan diaspora. Keberadaan unsur-unsur itu dalam suatu karya sastra membuat karya tersebut sangat penting dikaji dengan menggunakan teori poskolonial.


Postkolonialisme Homi K. Bhaba

Kajian poskolonialisme Bhaba dipengaruhi oleh para pemikir strukturalis seperti Jecques Derrida dan Michael Foucault serta dari psikoanalisis, Sigmund Freud. Dari perspektif Freud, ia berhasil mengungkap bahwa penjajah memiliki kebanggan tersendiri yang bersifat psikologis begitu berhasil mencapai keinginannya. Homi K. Bhaba memiliki pemikiran utama tentang poskolonialisme, yaitu mimikri dan hibriditas.

1. Hibriditas

Menurut Young dalam Loomba (2003: 223—225), hybrid adalah persilangan antara dua spesies yang berbeda sehingga istilah hibridisasi mengingatkan kepada gagasan botanis tentang pencangkokan antara spesies dan kosakata ekstrim kanan Voictorian yang menganggap berbagai ras sebagai spesies-spesies yang berbeda. Namun, dalam teori poskolonialisme, hibriditas dimaksudkan untuk mengingatkan kepada semua cara dalam mana kosakata ini ditentang dan dihancurkan.

Sikap hibrid yang dilakukan oleh tokoh pribumi berdasarkan penggambaran pengarang dalam novel tersebutdisebabkan oleh dua hal. Pertama, pengaruh dari kehadiran kolonial dalam ruang sosial mereka. Kehadiran kolonial ini tidak dapat mereka hindari dan hanya dapat mereka tolak dengan jalan mimikri atau meniru. Jadi, peniruan yang dilakukan oleh tokoh pribumi berawal dari bentuk penolakan hubungan kekuasaan kolonial. Kedua, disebabkan oleh percampuran kebudayaan antara kaum pribumi dan bangsa Eropa. Kebijakan politik yang diterapkan oleh Belanda memaksa kaum pribumi untuk memungkinkan diri mereka sama dengan bangsa Eropa. Hal tersebut ditandai dengan pengenyaman pendidikan Eropa yang ditempuh oleh sebagian besar kaum pribumi.

Hibriditas kolonial dalam pengertian khusus ini adalah suatu strategi yang didasarkan pada kemurnian kultural dan ditujukan untuk memantapkan status quo. Hibriditas terkooptasi mencakup efek sosial/politik tentang ‘inautenticity’ yang diinternalisasikan oleh subjek kolonial, kurangnya memberi potensi bagi keagenan, serta bentuknya paling berkembang dan kentara dari kekuasaan yang hegemonik.

Hibriditas organik sebagaimana yang dikatakan Young (dalam Foulcher, 1995: 22 dan Tony Day, 2006: 15) sebagai percampuran dari proses interaksi budaya antara penjajah dan terjajah yang berpadu dan dilebur menjadi bahasa, pandangan dunia atau objek yang baru. Sementara itu, hibriditas intensional secara sadar mempertemukan dua suara yang bertentangan dalam suatu hubungan dialogis sehingga satu suara membuka kedok suara yang lain.

2. Mimikri

Mimikri sederhananya, berarti meniru. Namun, dalam konteks studi poskolonial, ia juga berarti mencemooh. Mimikri selalu dibentuk dalam posisi persilangan antara apa yang diketahui dan diperbolehkan (untuk diketahui) dan yang bisa diketahui namun terlarang dan harus ditutup rapat (Baso, 2016: 64).

Membaca konsep Bhaba mengenai mimikri sebagai wacana yang ambivalen, yang di satu pihak membangun identitas atau persamaan, tetapi dilain pihak juga mempertahankan perbedaan. Hal ini ditandai dengan adanya sifat superioritas dengan inferioritas. Latar belakang kultural yang demikianlah yang membuat masyarakat Indonesia dengan cepat melakukan peniruan terhadap segala cara hidup dan cara berpikir kelompok sosial baru yang lebih superior, yaitu bangsa Belanda. Yang lebih mudah dan lebih cepat dilakukan oleh masyarakat setempat terutama sekali adalah peniruan gaya hidup orang Eropa yang menurut Heather Sutherland dan Ahmad Adam merupakan manifestasi dari hasrat masyarakat terjajah untuk menyesuaikan diri dengan kehendak zaman, mencapai kemajuan, dan menempatkan diri sama dengan bangsa penjajah (Faruk, 2001: 75—76).

Sastra dan Postkolonialisme

Novel Mencari Sarang Angin karya Suparto Brata adalah sebuah prosa fiksi yang relevan dalam pengkajian unsur poskolonial tersebut. Novel ini mengungkap unsur-unsur sejarah, perbudakan, perjuangan, dominasi, dan pencarian identitas baru. Novel ini juga menggambarkan kehidupan seorang jurnalis dari kalangan bangsawan Kraton Surakarta dengan latar empat zaman, yaitu zaman Belanda, Zaman Jepang, zaman Revolusi, dan zaman Kemerdekaan.

Pengarang menggambarkan keadaan tersebut melalui tokoh-tokoh pribumi khususnya pada tokoh utama Darwan yang berperan sebagai seorang jurnalis dan mengisahkan sejarah kehidupan pers di Surabaya. Profesi jurnalis merupakan salah satu usaha untuk membawa masyarakat Jawa pada taraf kehidupan yang lebih baik dalam hal ini ikut menyongsong rekonstruksi masyarakat Jawa modern. Pencarian dan pembentukan identitas baru dilakukan Darwan dengan cara mimikri terhadap budaya dominan kolonial Belanda. Akan tetapi, dia adalah seorang bangsawan Jawa yang tidak dapat melepaskan budaya jawanya begitu saja. Hal tersebut menjadikan tokoh Darwan dalam situasi ambivalen yang hanya akan diselesaikan dengan jalan percampuran atau hibriditas antara budaya Eropa dan budaya Jawa.

Hibriditas terkooptasi dicirikan oleh proses fusi budaya dan menyebabkan seorang pribumi menjadi sosok yang menegaskan hegemoni penguasa. Tipe hibriditas ini dengan tegas menunjukkan ketidakotentikan identitas pribumi dan tidak berefek pada resistensi terhadap kolonialis. Perilaku hibrid yang direpresentasikan Darisman dan istrinya. Darisman dan istrinya menyatakan diri secara langsung sebagai bagian dari kolonialis, yakni keberhasilannya untuk mengganti kewarganegaraannya menjadi warga Negara Belanda.

Hibriditas organik adalah percampuran dari proses interaksi budaya antara penjajah dan terjajah yang berpadu dan dilebur menjadi bahasa, pandangan dunia atau objek yang baru. Aspek hibriditas organik ini merepresentasikan tokoh pribumi yang ingin melepaskan diri dari belenggu jajahan kolonial dengan pengetahuan yang diperoleh dari penjajah itu sendiri. Hibriditas organik direpresentasikan oleh beberapa tokoh pribumi, yakni Tuan Ayat, Yayi, dan Zaki.

Hibriditas intensional dicirikan dari suatu moralitas berjois dari pribumi, keterbukaan pribumi terhadap moralitas dan identitas Eropa, dan sikap kritis terhadap suatu elemen identitas dalam dialektika yang dialogis. Tokoh pribumi yang merepresentasikan hibriditas intensional dari aspek bahasa adalah Andika, Yayi, Darwan, Darisman, dan Rokhayah. Hal utama yang tampak pada aspek hibriditas intensional adalah perwujudan kepribadian yang telah keluar dari identitas kaum pribumi. Kesadaran moralitas berjois membentuk identitas baru bagi tokoh pribumi.

Menurut Bhaba, peniruan yang dilakukan oleh kaum pribumi disebabkan oleh perilaku tokoh pribumi yang hibrid jadi membentuk pola kehidupan baru dalam diri mereka untuk meniru kebiasaan orang Eropa. Tokoh pribumi yang melakukan peniruan dalam novel tersebut adalah Darisman, Slamet, Darwan, Yayi, dan Ayah Yayi. Tokoh-tokoh tersebut adalah tokoh yang mimikri, yaitu meniru pendapat dan pengetahuan Eropa, meniru gaya hidup, pakaian dan selera Eropa, serta meniru watak Eropa.

Aspek kedua adalah peniruan dari gaya hidup dan cara berpakaian yang keeropaan. Aspek peniruan ini direpresentasikan oleh tokoh Darwan dan Yayi. Bagi mereka mengenakan kain dan kebaya untuk perempuan atau mengenakan kain dan destar untuk laki-laki dianggap tidak mampu mengikuti perkembangan zaman.

Aspek ketiga adalah tokoh Darwan yang merepresentasikan peniruan watak Eropa sebagai aspek ketiga dari mimikri. Latar belakang pendidikan kolonial yang dimiliki Darwan dan penanaman watak keeropaannya tidak membuat Darwan meninggalkan tanah leluhurnya. Darwan tetap mempertahankan tanah airnya sebagai tanah kelahirannya.

Karya: Riskal Ahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *